Pahamilah semua apa yang terjadi,saat hati tak lagi bisa berkata,mungkin bahagiamu bukan tuk diriku,biarkan semua ini jadi kenangan,lupakan semua cerita cinta,tinggalkan jiwaku yang terluka.
sampai mati kisah ini kan ku jaga,hingga berakhir nafasku,putih cintaku untukmu,sampai mati dirimu kan dihatiku,tiada mungkin tuk terganti,walau semua telah berlalu.
Atas nama cinta kau yang kubanggakan,inilah hidup tak perlu disesali,biarkan semua tetaplah terjaga,sudahkah kenangan cinta yang terindah,lupakan semua cerita cinta,tinggalkan jiwaku yang terluka. Putih: sampai Mati
Siang Pak Rafi, sapa karyawanku ketika dia melintas di hadapanku. Ya namaku adalah Rafi, nama yang diberikan orangtuaku padaku 30 tahun lalu yang mempunyai arti gunung yang tegar seperti adanya aku. Apapun yang terjadi aku tetap tegar setegar gunung sepeti 7 tahun lalu saat aku ditinggal oleh wanita yang sangat aku sayang dan cintai, dia memutuskan menikah dengan orang lain yang entah apa sebabnya, karena aku sangat tau dia, dia pun sangat sayang dan cinta padaku, gadis itu bernama Arum, yang berarti harum seperti adanya dia.
7 tahun telah berlalu, akupun telah mempunyai keluarga tapi sangat sulit bagiku tuk melupakan Arum, wanita yang telah membawa separuh hatiku atau bahkan lebih. Aku bisa berkata demikian karena aku sering mambanding bandingkan istriku dengan Arum, dan Arum mempunyai banyak kelebihan daripada istriku. Aku tak bisa menghapusnya dari ingatanku walau sekarang akupun dah mempunyai seorang putra.Apalagi seminggu yang lalu secara tak sengaja ku bertemu dengan wanita yang masih di hatiku, ya aku bertemu Arum.
Sempat aku tertegun melihatnya karena dia g banyak berubah hanya sekarang dia agak kurusan tidak seperti terakhir kami bertemu 7 tahun lalu."Arum" sapaku "Eh mas Rafii, bagaimana kabarnya mas?" tanyanya "alhamdulillah baik, kapan pulang ke sini karena kudengar kamu kan di Riau ikut suami?" tanyaku menahan rasa penasaranku juga gembira bisa bertemu dengan wanita yang kucintai walau kutau kami sama sama telah berdua. "Aku sudah 2 bulan di sini mas, aku sama anak-anak saja, mereka kangen neneknya" "kalau papahnya mana, kenapa g' ikut" tanyaku penuh selidik "Papahnya kemarin hanya mengantar aja mas, lalu kembali lagi karena tuntutan kerjaan" jawabnya, aku g' terpikir kalau kita ngobrol di jalan, lalu tanpa sungkan kuajak Arum tuk mampir makan, tapi sayang dia menolaknya, karena dia sudah lama meninggalkan anak-anaknya bersama neneknya, tapi dia memberi no hpnya padaku.
Karena rasa gembiraku bertemu lagi dengan Arum, sesampainya di rumah kuberanikan diri telp tanpa setau istriku, dan Arum menyambut telpku dengan suka cita, itu yang kutangkap dari suaranya saat bicara. Acara saling telppun terus berlanjut, kami saling melepas rindu lewat telp, dan dari saling telp juga aku jadi tau bahwa 7 tahun lalu g' ada kesengajaan darinya meninggalkan aku, Arum terpaksa, dia telah dijodohkan oleh orang tuanya. Dan dia juga masih sangat mencintaiku walau diapun telah mempunyai 2 putra, diapun mencintai suaminya walau dijodohkan, itu yang membuatku cemburu meski aku tau itu bukan hak ku.Dari saling telp, kami berlanjut ke pertemuan yang sebenarnya kami sama-sama tau kalau itu adalah perbuatan yang kurang sopan, tapi harus bagaimana lagi perasaan cinta diantara kami masih ada dan mungkin lebih dalam daripada kepada pasangan kita.
Tapi yang sangat kuinginkan dari dulu dari Arum adalah menyentuhnya atau menciumnya, itu tak pernah kudapat dari dulu karena dia sangat menjaga diri. "Rum", langsung kugenggam tangannya dan kudekap dia, dan anehnya tak ada penolakan apapun darinya."Mas Rafi boleh melakukan apa saja padaku, aku g' akan menolak mas, sebagai penebus rasa bersalahku meninggalkan mas dulu" itu katanya.Aku tak bisa menerima kerelaan Arum begitu saja karena itu bukan sifatnya."Benarkah apa yang kamu ucapkan Rum?" Aku tau apa yang aku ucapkan mas, dan mas Rafi g' usah ragu untuk itu. Tapi pertemuan kami hari itu harus sampai di situ karena hp Arum berbunyi dan menyuruhnya tuk cepat pulang. "Mas, aku pulang dulu"pamitnya"aku antar saja rum, g' baik kamu pulang sendiri"tawarku, tapi jawabanya "maaf mas lebih baik aku pulang sendiri, apa kata orang bila melihat kita jalan berdua, dan tau bila masing-masing dari kita telah berkeluarga.
Seminggu setelah pertemuan itu kami kembali bertemu, dia tampak lebih cantik dari biasanya, Arum dalam pembicaraan banyak meminta maaf, dan dia sering bilang kalau dia masih sangat mencintaiku sama seperti yang dulu, dan di akhir pertemuan kami dia inginkan aku tuk mencium keningnya, dan aku dengan senang hati mencium keningnya, entah mengapa saat aku mencium keningnya hatiku berdebar kencang yang aku sendiri tak tau apa artinya.Hari2 berikutnya kita masih saling telp hingga 1 bulan lamanya, tapi dalam setiap telp, kudengar suaranya yg lemas, tak bertenaga, setiap aku tanyakan katanya tak pa pa. Ku ajak bertemu dia selalu menolak tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu meng iyakan setiap ku ajak bertemu tuk sekedar melepas rindu.Setelah dia selau menolak ajakan tuk bertemu, 2 minggu berikutnya ku hubungi dia lewat hpnya tapi selalu tak aktif, sampai 1 minggu aku sabar menunggu siapa tau dia akan menghubungi ku, karena dia masih sangat mencintaiku, tapi apa..ternyata tak ada telp ataupun sms dari Arum."Arum, inikah caramu menyakitiku tuk yang kedua kali" itu yang ada di benakku saat hasilnya nihil menunggu telp dari Arum.
Aku seperti orang linglung, di kantor pekerjaanku tak pernah beres, di rumahpun istri dan anakku bingung melihat keadaanku yang seperti benang kusut.Akhirnya dengan sadar diri kuberanikan pergi ke rumah orang tua Arum tuk menanyakan kabar Arum. "Assalamu'alaikum" sapaku setelah sampai rumah Arum "Walaikumsalam, ehh.. nak Rafi ya, lama tidak bertemu, gimana kabarnya dan ada angin apa main ke sini?" tanya ibu Arum memberondongku"saya mau bertemu Arum bu" kataku.Tak kusangka raut wajah seorang ibu yang dulu hampir menjadi mertuaku mendadak berubah dan langsung menangis "Arum sudah pergi nak Rafi" "Pergi ke mana bu, apakah dia sudah kembali ke Riau bersama anak-anak" tanyaku "Tidak nak, Arum pergi tuk selamanya, dia sudah meninggal".Degg jantungku serasa berhenti mendengar penuturan ibunda Arum, benarkah dan benarkah Arum, wanita yang masih aku cintai telah meninggalkanku lagi, tapi ini tak akan bisa kutemui lagi."Arum meninggal karena apa bu?" tanyaku "Arum terkena kanker rahim nak Adi, dia sebenarnya sudah berobat ke banyak dokter, tapi Allah menghendaki lain, 1 bulan sebelum dia meninggal dia sering bepergian katanya mau bertemu teman-temannya, meninggalnyapun baru 3 minggu yang lalu nak Rafi, ohya sepertinya ada titipan surat dari Arum untuk nak Rafi, sebentar ibu ambilkan."tak lama kemudian ibunda arum kembali membawa amlop kecil dan tak berapa lama aku pamit pulang tak lupa kutanyakan dimana Arum dimakamkan, karena aku tak kuat bila lebih lama lagi di rumah orang tua Arum.
Sepulang dari rumah ibunda Arum, aku langsung menuju tempat di mana Arum dimakamkan, dan kubaca surat yang di tulis Arum untukku"Assalamu'alaikum mas Rafi, mas sebelumnya aku minta maaf bila aku buat banyak salah sama mas, dan aku tak pamitan kepada mas, karena aku tak mau membuat hati mas sedih memikirkan penyakitku, sebenarnya aku pulang ke kota ini, karena aku ingin tempat peristirahatanku yang terakhir di kota ini mas, di kota kelahiranku, di kota yang membawa banyak kenangan.Pertama bertemu mas aku sebenarnya ingin curhat tentang penyakitku, tapi sanggupkah aku menceritakan kesedihanku kepada orang yang kucintai, akupun tidak cerita kepada suamiku mas, karena mas Rafi dan suamiku mempunyai kedudukan yang sama di hatiku. Mas jalani hidup ini, bahagiakan istri dan anak mas, kan kubawa cinta ini sampai mati, mas maafkan aku."Tak terasa air mataku jatuh, Berarti pertanda-pertanda sebelum Arum meninggal sebenarnya sudah kurasakan tapi tak kusadari. Ya Allah inikah jalanmu untuk kami, kau pisahkan aku lagi dengannya, tapi ini bukan sementara, tapi selamanya Ya Allah. Engkau biarkan dia menanggung sendiri kesedihannya hingga akhir hayatnya, Kau biarkan dia membawa separuh hatiku bersamanya.
Ya Allah aku percaya ini semua adalah yang terbaik yang kau pilihkan tuk kami, Ya Allah terimalah orang yang sangat kucintai, berilah dia tempat yang layak di sisi Mu, AMIENSetelah kubacakan beberapa doa yang aku mampu, aku pergi meninggalkan makam Arum, dan tak lupa kuberucap "Selamat jalan Arum, kan kukenang cintamu dalam hatiku, kan ku kenang saat-saat terakhir bersamamu, kucoba tuk jalani hidup ini seperti pintamu, walau sulit terasa, karena aku sangat mencintaimu."Aku harus tegar setegar gunung seperti namaku "RAFI"
cerpen.net/cerpen-cinta

| Follow @pengen_lihatgak |





















Komentar :
Poskan Komentar
Kalo Agan Berkenan Komentar Di sini Yah Gan, gampang kok tinggal tulis,pake anonim atau url web agan, komentar langsung tampil