Tante Girang Itu selingkuhan Babe Gue DHANIELS.COM|BLOG MAJALAH |DOWNLOAD FILM GRATIS|FREE GAMES PC | BERITA TERBARU

Tante Girang Itu selingkuhan Babe Gue



Ciimahi, awal Juni yang gerah. Mobil mewah itu sudah menanti di parkiran sekolahnya dengan seorang pengemudi berpenampilan seleb. Umurnya pasti tak jauh beda dengan Zakia, kakak sulungnya.

Yeah … Dia memang mantan kakak kelas Zakia, kakaknya.

“Huuh! Gue tahu sedikit tentang elo!” Reza membatin.

Dan lelaki yang menjemput di sekolah favoritnya siang itu adalah ayah kandungnya. Lelaki yang telah mengecewakan hatinya, sekarang masih merangkul bahunya kuat-kuat. Seolah masih mengkhawatirkan anaknya minggat lagi, seperti beberapa kali pernah terjadi.

“Kali ini Gue gak bakalan cabut lagi. Gue punya rencana! Sueer … samber geledeeek!” geramnya hanya di hati.



“Ucok …”

“Dibilangin ribuan kali juga!” tukas Reza ketus.

“Ada apa?” lelaki itu menatap keheranan.

“Jangan panggil aku dengan sebutan begitu! Norak, tau gak sih?”

Reza menekankan istilah ‘aku’ itu.

Maksudnya jelas, kepingin menyiratkan bahwa dirinya bukan kanak-kanak lagi. Sosok manusia yang seharusnya didengarkan juga suaranya, pikiran dan perasaannya. Umurnya sudah empat belas, sebentar lagi masuk SMA.

Hatinya dalam sekejap centang-perenang, Addduuuh!

Coba ngapain tuh, seenaknya saja bikin keputusan! Dianggapnya itu terbaik bagi anak! Huuuh! Siapa sih yang bakal ngejalanin? Manusia gak punya hati lagi, dasaaar!

Yap, semua kekacauan ini gara-gara dia! Sialnya gue kudu nyebut dia: Papa!

Dengan sebal diliriknya sekilas lelaki yang berjalan di sebelahnya itu. Di kampung Cikumpa - Depok, tempat mukim mereka dulu, orang memanggilnya Om Mardo. Tapi di rumah keluarga ibunya. Bahkan Oma, sebutan para cucu untuk neneknya dimulai oleh cucu pertamanya yang Indo-Belanda, ikut-ikutan pula memanggilnya begitu.

Wajahnya yang persegi, seharusnya menahan kemarahan dan kekesalan. Yap, tapi …, aha?!

Reza balik mengamatinya keheranan. Ada apa dengan lelaki yang sudah lama menghianati Mama ini? Bibirnya malah menyungging senyum. Rangkulan di bahu-bahunya terasa kian dipererat.

“Baiklah, Reza…,” ujarnya dalam nada datar.

“Ssshhh!”

Reza menepis rangkulan yang serasa membebani itu dengan kasar. Lelaki paro baya yang masih keren itu tertegun, mengernyitkannya sepasang alisnya yang tebal dan kasar. Reza harus mengakui keperkasaan ayahnya.

Dia memang ganteng pikirnya.

Uuuh, tapi apa hanya kegantengan dan keperkasaan belaka yang dilihat si … seleb gadungan!

“Reza, jangan begitu …,” erang lelaki itu dengan tatapan bingung.

Maraaah, ayooo, marahlah. Biar ada alasan buat gue. Gak perlu ngikut kemauan kalian! Tentangnya riuh masih dalam hati, lebih sebagai pengimbang sepercik kagum atas penampilan lahiriah lelaki itu.

Tidak, lelaki itu sekarang hanya terdiam.

Fheeew…! Betapa ingin Reza mengalihkan beban pikirannya. Biar tak terlalu mencekik di tenggorokan. Terasa kesat di lidah , mengiris di hati dan kacau-balau di otak. Ke mana sih anak-anak kalau diperlukan?

Sebenarnya Reza masih berharap, ada salah seorang gengnya di sekitar sini. Seharusnya mereka melepas kepergiannya dengan salam perpisahan. Tapi harapannya sia-sia. Sepanjang koridor sekolahnya tampak lengang. Sekarang musimnya anak kelas satu dan dua ujian. Sedangkan dia dan angkatannya sudah selesai UAN beberapa waktu lalu. Sekarang mereka menunggu kelulusan.

Tantan pindah ke Surabaya. Soni ditiitipkan ke neneknya di Lampung, sebab ibunya nekad jadi TKW. Si kembar Farah-Fahri apa jadi ke Australia, ya?

Pagi sekali Reza sudah meninggalkan kamarnya yang belakangan terasa membeku. Ibunya masih diopname di RS. Dustira. Orang serumah sibuk bergantian menungguinya. Dia sudah tak melihat nenek dan adik perempuannya lagi ketika otaknya serasa nge-blank.

“Oma sama Butet nemenin Mama ditindak,” jelas Tante Aminah, demikian panggilan untuk adik bungsu ibunya.

“Apa itu?”

“Mmm …, katanya, diblokir levernya biar penyakitnya gak ke mana-mana,” jawab tantenya yang sibuk meladeni para pembeli.

Tante Aminah, perempuan sederhana, mantan aktivis Rohis kampus teguh dengan jilbab lebarnya. Sarjana ekonomi ini memiliki toko mungil di samping rumah, menjual keperluan sehari-hari. Om Eka, suaminya, seorang dai muda yang sering diundang ceramah keliling daerah demi dakwah, pencerahan ummat.

“Memangnya lever Mama… ada kankernya, Tan?” Reza mendegut ludah, tenggorokannya mendadak kering.

“Gaklah! Dokter Jo bilang sedikit mengeras. Kalau diobati secara intensif, insya Allah bisa sembuh,” paparnya cukup meyakinkan, hingga hati Reza yang sempat menciut kembali agak tenang.

“Syukurlah…” Reza menghembuskan napas lega.

“Papamu akan menjemputmu nanti. Jangan ke mana-mana, ya,” pesannya sebelum kembali disibukkan para pembeli. Sementara Hani, anaknya berumur tiga tahun mengintilnya kemana pun ibunya melangkah.

Sekolah! Reza merasa sudah semakin dekat saatnya kehilangan banyak hal. Ibu dan adik yang dikasihi, keluarga besar neneknya yang saling menyayangi, sekolahnya dan segala kenangan masa-masa SMP.

Eeeh, tahu-tahu makhluk ini menyusul ke sini!

Di mana mereka menginap semalam? Di hotel mewah di Bandung? Sewa hotel berbintang selama sebulan sekalipun, apalah artinya buat mereka? Perempuan itu kabarnya pemilik bisnis perkapalan. Hebaaat!

Perubahan itu sudah terjadi saat Reza naik kelas dua SMP. Mama sering tetirah di rumah neneknya di Cimahi. Reza memilih ikut Mama dan adiknya. Ayahnya tetap tinggal di Depok, sudah lama dinonaktifkan dari departemennya. Bisnis rumah kontrakannya mengalami pailit begitu musim krismon, banyak rumah rusak terbengkalai.

Ya, semua berawal dari keuangan yang morat-marit!

Sejak itu mereka hidup dalam serba kekurangan. Meskipun Mama masih mengandalkan honor-honor tulisannya. Jelas, mereka sering dibantu neneknya yang memodali Tante Aminah buka warung. Dari situlah mereka bisa makan dengan lauk tahu-tempe, kerupuk dan ikan asin.

Reza tak tahu apa ayahnya masih suka mengirimi uang. Bila mengingat kekikirannya…, entahlah!

“Jadi?” tantang Reza membuyarkan lamunannya sendiri.

Ayahnya, lelaki yang punya istri muda itu, malah menatapnya ragu.

Apa sih yang ditakutinya? Reza bertanya-tanya dalam hati.

Reza Jeger, begitu gengnya menggelarinya. Ini soal keberanian dan kenekadan, begitulah adanya. Bukan otak cemerlang atau taburan prestasi seperti kakaknya.

Well, berapa banyak adik kelas yang pernah dipalakinya? Anak perempuan mana pula yang luput dari keisengannya? Mulai dari sekadar dikata-katai sampai dicubit gemas atau disentuh di bagian tertentu? Pasti gak keitung lagi tuh, Hm, biar jadi nostal… gila masa ABG!

“Bagaimana?” ulang Reza menyelidik sekaligus ingin tahu, kira-kira apa yang dicemaskan ayahnya.

Lelaki itu menghela napasnya dengan berat, mengamati wajah putranya dengan mimik was-was.

“Baiklah! Tentu saja kita akan ke Jakarta sekarang. Kami sudah membicarakannya dengan keluarga Mamamu.”

“Gak perlu pamitan Mama dulu, begitu?” sinis Reza.

“Mmm, apa harus?” ayahnya balik bertanya.

Pasti akan banyak air mata tercurah lagi.

Memang gak perlu pamitan ala film India segala. Lagian mungkin Mama ada di ruang tindakan untuk embolisasi itu? Aduuuh… Maafkan Reza, Ma!

Ada yang mengiris ujung kalbunya.

Aku harus kuat, haruuus, haruuusss! Ia memekik. Ia meracau. Lagi-lagi hanya di dalam hati.

“Barangmu sudah ada di bagasi,” berkata ayahnya lagi.

Agaknya bungkamnya disimpulkan persetujuan oleh lelaki yang di matanya mirip sosok pecundang itu. Ya, apalagi sebutan yang tepat bagi lelaki yang menggantungkan hidupnya dari perempuan? Pe-cun-daaang!

“Yah, memang tidak bisa dibawa semuanyalah. Tapi nanti di jalan kita akan belanja keperluan kamu …”

Seketika ayahnya terdiam. Disadarinya pandangan Reza sudah mengarah tajam ke mobil mewah satu-satunya di parkiran sekolah. Inilah untuk pertama kalinya mereka bertemu dan akan melewati perjalanan panjang. Reza dengan ibu tirinya!

“Oh, iya… Kau boleh panggil dia Tante…”

“Girang!” tukas Reza ketus menikam.

“Apaaa?!” seru ayahnya.

“Tante Girang! Gebetan gigolo 70-an. Aku baca tuh di novel-novel karya Motinggo Busye. Mama bilang itu koleksi Papa?”

“Reza…” teguran lelaki paro baya itu mirip erangan.

Reza tersenyum sinis melihat ayahnya mulai terpancing. Bagus!

“Sebetulnya, mm, yeah…”sambungnya dalam dada menikam. “Julukan buat cewek tukang rebut suami orang itu banyak sih! Kayaknya cuma satu yang paling pas buat dia… Mau tau?”

“Reza…”

“Bit…shhh!” Reza menelan ujung istilah terburuk yang pernah melintas di memori otaknya.

Sepasang mata itu kini melotot.

Reza mesem dan merasa puas untuk sementara.

“Artinya…tauk sendirilah!”

Wajah di hadapannya terlongong hebat dengan warna kepiting rebus.

Aha ! Dia paham maksud gue!

Reza tak peduli, berlagak melenggang ringan menghampiri BMW. Seperti yang sudah dilihatnya sejak beberapa menit lalu, di belakang kemudi ada penghuninya. Tante Maria, lengkapnya Maria Francisca. Sebuah nama yang suatu masa pernah begitu sering didengarnya dari mulut kakak sulungnya.

Dan sekarang sosok cantik berhati iblis itu telah menjadi WIL-nya si Papa!

Bisa nyambung, tapi bisa juga tidak….








Komentar :

ada 1
Ivan Kavalera mengatakan...
pada hari 

Wah, tante girangnya cantik ya. Hmmm...

Poskan Komentar